Jobs · OTHR · California

Rubuha : Teknologi Pengendalian Tikus Sawah dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan Tim Pengabdiah RG Hama Tanaman Tropika

OTHRFull-time
Tikus sawah merupakan salah satu hama utama yang dapat menurunkan produktivitas padi hingga menyebabkan gagal panen dan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi petani. Serangan hama ini terjadi secara berulang di Kelompok Tani Tani Makmur III, Desa Jetis, Kecamatan Delanggu, pada setiap musim tanam. Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat serangan tikus di lahan kelompok tani ini mencapai sekitar 30% pada setiap musim tanam. Upaya pengendalian yang telah dilakukan, seperti penggunaan umpan beracun, masih bersifat sementara dan belum mampu menekan populasi tikus secara optimal. Menjawab permasalahan tersebut, tim pengabdian RG Hama Tanaman Tropika UNS menghadirkan inovasi Rumah Burung Hantu (Rubuha), sebuah teknologi pengendalian tikus sawah yang mengedepankan pendekatan ekologis. Penerapan teknologi Rubuha menjadi salah satu solusi inovatif untuk mengendalikan tikus sawah di Kelompok Tani Tani Makmur III, Desa Jetis, Kecamatan Delanggu. Teknologi ini memanfaatkan burung hantu (Tyto alba) sebagai predator alami tikus sehingga menjadi metode pengendalian yang ramah lingkungan dan selaras dengan kearifan lokal. Rubuha dipasang di beberapa titik strategis di area persawahan agar burung hantu dapat berburu secara optimal dan menekan populasi tikus. Dengan berkurangnya serangan hama, produktivitas padi diharapkan tetap terjaga dan hasil panen petani meningkat. Selain efektif, teknologi Rubuha juga mengurangi ketergantungan pada penggunaan racun maupun bahan kimia sehingga lebih aman bagi lingkungan. Inovasi ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung terwujudnya sistem pertanian yang berkelanjutan. Kegiatan Tim Pengabdian RG Hama Tanaman Tropika di Desa Jetis diawali dengan penyuluhan mengenai bioekologi dan perilaku tikus sawah sebagai dasar dalam memahami strategi pengendalian yang efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan Rubuha. Dalam kegiatan ini, tim juga menyerahkan dua unit Rubuha yang didirikan di lahan anggota Kelompok Tani Tani Makmur III sebagai sarana konservasi burung hantu sekaligus pengendalian hayati tikus sawah. Melalui penerapan teknologi ini, diharapkan populasi tikus sawah dapat ditekan secara alami, produktivitas padi meningkat, serta petani semakin terdorong untuk menerapkan praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kegiatan penyuluhan diikuti oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Makmur, wakil dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Klaten, BPP Delanggu, Kepala Desa dan aparat Desa Jetis, mahasiswa Proteksi Tanaman UNS, mahasiswa Agroteknologi UNS, mahasiswa KKN UGM, dan seluruh tim Pengabdian RG Hama Tanaman Tropika (Gambar 1). Kegiatan ini telah dilaksanakan pada tanggal 29 Juni 2026 di rumah ketua Gapoktan Tani Makmur, Bapak Prayitno. Gambar 1. Tim Pengabdian RG Hama Tanaman Tropika bersama sebagian peserta penyuluhan Penyampain materi penyuluhan dilakukan oleh Prof. Supriyadi sebagai anggota Tim Pengabdian dengan moderator anggota BPP Delanggu, Bapak Hartono (Gambar 2). Dalam kegiatan ini juga diserahkan dua unit rubuhan yang telah didirikan di lahan anggota Kelompok Tani Tani Makmur III. Penyerahan rubuha secara simbolis dari ketua tim Pengabdian Dr Retno Wijayanti kepada Ketua Gapoktan Tani Makmur Bapak Prayitno (Gambar 3). Gambar 3. Penyerahan rubuhan secara simbolis dari ketua tim pengabdian kepada ketua Gapoktan Tani Makmur (A), rubuhan yang ada di lahan (B) Kegiatan pengabdian oleh RG Hama Tanaman Tropika di Desa Jetis Delanggu turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui berbagai aspek. Dari sisi pendidikan (SDGs 4 – Quality Education), petani memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis mengenai pengendalian hama terpadu melalui penyuluhan dan praktik lapang yang dilakukan secara partisipatif. Pendekatan ini menjadikan petani tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga mitra aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu, kegiatan ini memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok tani, penyuluh pertanian, dan pemerintah desa sebagai wujud kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan (SDGs 17 – Partnerships for the Goals). Pemanfaatan teknologi rubuha juga memberikan kontribusi nyata terhadap beberapa tujuan SDGs lainnya. Pengendalian tikus secara hayati membantu menjaga produktivitas padi sehingga mendukung upaya mewujudkan SDGs 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan ketahanan pangan. Penggunaan burung hantu sebagai predator alami tikus mengurangi ketergantungan pada rodentisida sehingga mendorong praktik pertanian yang lebih bertanggung jawab dan ramah lingkungan, sejalan dengan SDGs 12 (Responsible Consumption and Production). Di sisi lain, berkurangnya penggunaan bahan kimia turut menjaga keseimbangan ekosistem daratan dan keanekaragaman hayati, sehingga mendukung SDGs 15 (Life on Land). Diharapkan, kolaborasi dan inovasi yang diterapkan dalam kegiatan ini dapat menjadi contoh penerapan teknologi ramah lingkungan yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Similar jobs